Showing posts with label Refresing. Show all posts
Showing posts with label Refresing. Show all posts

Mersa Matrouh

Matrouh adalah salah satu kota wisata utama di Mesir. Kota yang sering dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, apalagi ketika liburan musim panas. Kota ini identik dengan pantai, dimana pasirnya yang putih dan lembut serta keadaan perairannya yang sangat tenang. Matrouh memiliki iklim yang kering khas mediterania, dengan musim dingin yang sejuk serta musim panas yang kering. Sering kali hujan turun ketika musim dingin, atau ketika musim semi atau gugur, bahkan sesekali turun salju dan hujan es. Jarak kota ini dari Kairo adalah 524 km

Dinamakan Mersa Matrouh karena didalam kota ini terdapat sebuah pelabuhan yang sarat sejarah. Kota ini dahulu adalah sebuah kota nelayan kecil dimasa Mesir Kuno. Ketika itu Alexander The Great memberi nama kota ini dengan nama Amunia. Pada masa era Ptolemeus dan Byzantium kota berubah nama menjadi Paraitonion. Namun, pada masa Romawi, dimana ketika itu penduduk Romawi datang ke Mesir dan menggunakan pelabuhan ini sebagai sarana perdagangan dan pengiriman barang serta tanaman ke Roma, nama kota ini berubah lagi menjadi Paraetonium.

Di kota ini, banyak sekali berbagai objek wisata yang tak bisa dilewatkan bagi para pengunjungnya, baik itu tempat rekrasi maupun tempat bersejarah. Salah satunya adalah pantai Matrouh. Di pantai ini pengunjung bisa merasakan salah satu keindahan alam di negri mesir, angin yang berhembus sepoi-sepoi, pasir yang putih, serta perairan yang tenang. Ini cocok sekali bagi mereka-mereka yang telah banyak bekerja berminggu-minggu atau bagi mahasiswa yang sebelumnya telah banyak berkutat dengan diktat kuliyah. Di pantai ini pengunjung bisa menghilangkan rasa penat, gundah, serta merasakan betapa indahnya ciptaan Allah Subhanallahu wa Ta'ala.Mungkin akan lebih nikmat jika pengunjung bisa bermalam di kota ini. Karena malam harinya pengunjung bisa menikmati keindahan pantai dimalam hari dengan ramainya penduduk Matrouh dan para pengunjung disini. Selain itu, pengunjung juga bisa mengelilingi area pantai dengan menyewa sepeda serta kendaraan lainnya. Di pagi harinya pengunjung bisa merasakan kesejukan hawa pagi di pantai dengan tenang, tanpa keramaian. Karena di waktu ini jarang sekali pengunjung lainnya menikmati pantainya.



Selain pantai Matrouh, pengunjung bisa menikmati pantai Ageebah yang tak kalah menariknya dengan pantai Matrouh. Ada pula pantai Abyadh yang lebih mempesona lagi. Dan terdapat pula Hamam Cleopatra, dimana konon katanya tempat ini merpakan tempat mandinya Sang Ratu Cleopatra.



Matrouh juga mempunyai berbagai tempat bersejarah. Diantaranya adalah adalah reruntuhan Kuil Raja Firaun Ramses II pada tahun 1200 SM, dan Armada Anchorage. Sebuah Armada yang dibangun oleh Ptolemies dengan sisa-sisa instalasi angkatan laut yang masih berdiri di barat pelabuhan. Disini juga terdapat gereja koptik yang dibangun pada masa awal-awal kristen koptik berdiri.

Selain tempat bersejarah diatas, terdapat pula museum militer Rommel. Sebuah gua yag dijadikan tempat persembunyian Rommel dan tempat menyusun rencana operasi militernya. Seorang komandan pasukan Jerman pada masa Perang Dunia II. Dibelakang museumnya, terdapat pantai Rommel. Banyak pengunjung beristirahat dan bersantai di pantai ini setelah melihat-melihat museum Rommel. Ada juga pemakaman Inggris, Italia, serta Jerman. Sebuah pemakaman yang berdiri sejak zaman dahulu yang terdiri dari ribuan pahatan batu nisan. Dan yang terakhir adalah reruntuhan Marina El-Alamein, sebuah kota kuno yang ditemukan pada tahun 1985. Kota ini terdiri dari kuil, kuburan, serta rumah-rumah bangsawan pada masa Graeco-Romawi. Kota ini termasuk arkeologi terbesar setelah Alexandria.

Bagi para wisatawan yang berkunjung ke mesir, rasanya takkan indah jika tidak merasakan pesona alam Mersa Matrouh yang sarat sejarah, terkhusus bagi mahasiswa Indonesia yang telah usai ujian.

Semenanjung Sinai


Semenanjung Sinai adalah sebuah semenanjung yang unik, bentuknya segitiga dilihat dari Space Shuttle, terletak di Asia Barat, namun menjadi bagian dari Negara Mesir. Semenanjung ini hampir seluruhnya terdiri dari padang pasir, namun ada penduduk di pesisir Sabah di Taba, sebuah daerah yang dekat dengan kota Eliat, Israel.

Di semenanjung ini, terdapat berbagai objek wisata yang biasa dikunjungi oleh turis mancanegara, salah satunya adalah Gunung Sinai. Gunung ini sering disebut juga dengan Jabal Mousa, gunung yang sarat dengan sejarah. Tingginya sekitar 2.285 meter diatas permukaan laut, terletak di barisan pengunungan bagian selatan semenanjung ini. Gunung yang hanya berupa bebatuan, tidak ada pepohonan maupun tumbuhan, kecuali hanya ada satu atau dua pohon yang bisa ditemui. Jarak yang ditempuh dari kairo sekitar 412 km.





Hampir setiap hari gunung ini didaki banyak turis mancanegara, terlebih ketika liburan musim panas dan musim dingin. Waktu yang dibutuhkan untuk mendaki gunung ini biasanya sekitar 2-4 jam dan dilakukan pada dini hari. Sebab sebagian besar para pendaki ingin menikmati indahnya sun rise. Sebelum pendakian, para pendaki mempersiapkan peralatannya, baik makanan maupun pakaian tebal. Karena ketika sampai di puncak, tidak akan ada penjual makanan dan udaranya sangat dingin, apalagi jika di musim dingin, akan ada salju yang turun menemani para pendaki yang kegirangan sambil menggigil kedinginan. Bagi yang sudah tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan, penduduk setempat menyediakan unta yang akan mengantarkan penumpangnya menuju bukit, hanya saja tidak sampai pada puncaknya, karena untuk sampai ke puncaknya harus melewati jalan setapak nan terjal yang tidak mungkin bisa dilewati oleh unta.






Selain gunung Sinai, terdapat pula Jabal Thur, tempat dimana Nabi Musa AS berdialog dengan Allah SWT ketika menerima wahyu, dimana beliau ketika itu sedang melakukan perjalanan dari kota Madyan menuju Mesir bersama istrinya, anak dari Nabi Syuaib AS. Kemudian wahyu tersebut dikenal dengan Ten Commandents.
Di lembah Semenanjung Sinai ini juga terdapat biara Saint Catherine yang dibangun pada abad ke 6 M. Dan pada 4 Februari 1859, Codex Sinaiticus, sebuah manuskrip Perjanjian Lama dari abad ke-4, ditemukan oleh Konstantin von Tischendorf di kaki gunung Sinai ini. Kini, Semenanjung Sinai merupakan objek wisata yang takkan dilewatkan bagi turis-turis mancanegara yang berkunjung ke Negara Mesir. Terlebih ketika musim panas, banyak turis mancanegara yang berkunjung ke semenanjung ini, termasuk Indonesia.